Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci".(TQS Ash Shaff [61] : 9)
Takdir Sejarah: Kebenaran Versus Kebatilan
Benturan antara kebenaran dan kebatilan sudah menjadi semacam takdir sejarah yang tidak mungkin dihapuskan dari kehidupan manusia. Bahkan, sampai kapanpun, keduanya akan saling menghancurkan, mengalahkan, dan berusaha memenangkan dirinya atas yang lain. Kebenaran tidak mungkin bisa bersanding dengan kebatilan. Begitu juga sebaliknya, kebatilan tidak mungkin bisa disandingkan dengan kebenaran. Keduanya juga berusaha terus menerus menanamkan pengaruh-pengaruhnya ke dalam benak manusia, dan berupaya menyeret sebanyak-banyaknya manusia agar rela menjadi pejuang dan pengikut setianya. Lahirlah kemudian kubu kebenaran dan kubu kebatilan. Keduanya akan terus bertarung dan menyebarkan pengaruh-pengaruhnya hingga hari kiamat, seperti halnya kebenaran dan kebatilan itu sendiri bertarung dan berperang.
Walhasil, di dalam hidup ini, seorang Muslim dihadapkan pada dua pilihan, pertama, menjadi pendukung kebenaran, atau menjadi pendukung kebatilan. Tidak ada pilihan yang ketiga bagi kaum Muslim. Sebab, ketika kita memilih untuk tidak mendukung kedua-duanya, berarti kita tergolong kelompok kebatilan. Ini bisa dimengerti karena, Islam mewajibkan adanya monoloyalitas bagi para pemeluknya.
Saat ini, Islam sebagai ideologi yang benar, tengah menghadapi dua ideology bathil dunia, yakni kapitalisme dan sosialisme, yang didukung oleh pengikut dan pendukung setianya, baik individu, kelompok, maupun Negara. Mereka terus menerus menjajakan ideology mereka yang sesat itu, dan berusaha sekuat tenaga untuk membendung upaya-upaya penerapan Islam dalam wilayah negara, masyarakat, dan individu. Dengan berbagai macam cara mereka terus berusaha menghancurkan sehancur-hancurnya ideologi Islam.
Pada saat ini, perjuangan untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam didukung oleh partai, kelompok, atau individu-individu yang pro terhadap syariat Islam. Gerakan-gerakan ini aktif menyuarakan penerapan kembali syariat Islam dalam ranah Negara, masyarakat, dan individu. Mereka menggiatkan diri dalam perjuangan menegakkan kembali system Islam, menghancurkan ideology kufur (kapitalisme dan sosialisme), dan berusaha sekuat tenaga mengganti system kapitalistik dengan system Islam. Hanya saja, kaum kafir juga tidak tinggal diam. Mereka terus bergerak dan berjuang dengan mengerahkan segenap tenaga, pikiran, dan harta mereka untuk menghalang-halangi kembalinya Islam dalam kenyataan hidup bernegara dan masyarakat.
Salah satu upaya yang wajib diwaspadai adalah; upaya kaum Kafir barat memanfaatkan anak-anak kaum Muslim untuk memukul dan menghancurkan Islam dan kaum Muslim sendiri. Mereka merekrut anak-anak kaum Muslim untuk dijadikan agen-agen dan penjaja pemikiran dan peradaban kaum Kafir barat. Mereka mensuport habis-habisan kelompok ini, baik fasilitas, media, kedudukan, dan dana yang melimpah. Kaum kafir sadar benar; bahwa umat Islam akan lebih mudah dihancurkan dari dalam, oleh anak-anak mereka sendiri, daripada dihancurkan dengan kekerasan senjata langsung, oleh orang kafir sendiri.
Atas dasar itu, kaum Muslim wajib mewaspadai upaya-upaya agen-agen kaum kafir menghancurkan Islam dan eksistensi kaum Muslim. Lalu, siapakah agen-agen kaum kafir itu? Bagaimana ciri-ciri mereka.
Agen-agen Musuh Islam dalam Dokumentasi Sejarah Pengkhianatan
Dalam lintasan sejarah, hampir-hampir, tidak ada satupun upaya kaum kafir untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim menuai keberhasilan, kecuali setelah ada sekelompok kaum Muslim yang rela menghambakan dirinya kepada kaum Kafir, dan menjadi antek-antek setia mereka.
Kita bisa belajar dari kisah keberhasilan Timur Lenkh dalam menghancurkan pusat kekhilafahan Islam di Baghdad. Timur Lenkh berhasil meruntuhkan kekuasaan Islam di Baghdad setelah didukung sepenuhnya oleh pengkhianatan al-Qummi, seorang 'ulama yang memberikan nasehat culas dan licik kepada sang Khalifah, dan terlibat persekongkolan dengan Timur Lenkh, hingga Negara Khilafah tidak siap menghadapi serangan tentara Mongol. Kita juga bisa mengaca dari kisah pengkhianatan pemimpin-pemimpin Arab ketika berperang melawan Israel, yang dengan perang itu justru menguatkan eksistensi Israel di Palestina. Kita juga menyaksikan di atas panggung sejarah, kehancuran Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924 di tangan Kemal A'daa al-Turk (Kemal Musuh Turki); seorang agen dari Inggris. Kita juga menyaksikan betapa jihad di India melawan imperialisme Inggris, hampir-hampir mampu dipadamkan melalui fatwa-fatwa Mirza Ghulam Ahmad, seseorang yang mengaku mendapatkan wahyu dari langit, dan mengaku sebagai seorang Nabi. Kita juga menyaksikan betapa kekuasaan Khilafah Islamiyyah berhasil digerogoti oleh agen-agen Inggris, semacam keluarga Saud, raja Yordan, dan lain sebagainya, memisahkan diri dari Khilafah Islamiyyah dengan mendirikan Negara Saudi Arabia. Di Mekah, Syarif Husain bersekongkol dengan Inggris untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Islam.
Tidak hanya itu saja, kita juga bisa menyaksikan kiprah antek-antek kaum kafir dalam bidang pemikiran. Menjelang kehancuran Khilafah Islamiyyah, antek-antek kaum kafir terus membombardir kaum Muslaim dengan berbagai macam pemikiran, pendapat gagasan, hukum, dan keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, menjelang kejatuhan Khilafah 'Utsmaniyyah Terakhir, di negeri-negeri Arab banyak didirikan partai-partai politik yang didukung sepenuhnya oleh kaum kafir penjajah. Partai-partai tersebut menyuarakan nasionalisme Arab, Turki, dan sebagainya, seraya mempropagandakan untuk memisahkan diri dari Daulah Khilafah. Partai-partai ini sengaja dimunculkan untuk membuat kekacauan dan instabilitas politik di dalam Daulah Khilafah Islamiyyah. Sementara itu, kaum imperialis barat terus-menerus menekan posisi Daulah Khilafah Islamiyyah di panggung politik internasional.
Akhirnya, gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Kemal berhasil menghancurkan Daulah Khilafah Islamiyyah, dan melakukan proses sekulerisasi radikal di Turki.
Upaya yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-anteknya tidak terhenti di sini saja. Setelah khilafah Islamiyyah runtuh, mereka giat menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat semacam demokrasi, nasionalisme, liberalisme, sekulerisme dan lain-lain. Mereka juga berusaha merusak dan mengacaukan pemahaman umat terhadap agama Islam. Mereka mengenalkan apa yang disebut dengan tafsir hermeneutika, filsafat perennial, Islam liberal, serta pemikiran-pemikiran sesat yang dibalut dengan label-lebel Islamiy. Mereka terus mendiskreditkan hokum-hukum Islam yang agung dan mulia. Mereka meragukan kemampuan Islam dalam mengatur dan memecahkan masalah-masalah manusia. Mereka juga menggugat keasahan al-Quran dan hadits sebagai sumber hukum. Mereka juga terus menjejalkan pemikiran-pemikiran kufur ala demokrasi dan liberalisme di tengah-tengah kaum Muslim. Hal ini terus berlangsung hingga kini, dan akan terus berlangsung semampang masih ada umat Islam yang konsisten dan teguh dengan ajaran Islam.
Agen Kaum Kafir dan Para Pengkhianat Dewasa Ini
Pada dasarnya, keberadaan agen-agen kaum kafir (baik Muslim maupun non Muslim) di negeri-negeri Islam dapat diidentifikasi berdasarkan fakta-fakta berikut ini:
- Mereka sengaja menyebarkan pemikiran-pemikiran kufur baik secara terbuka maupun terselubung --berlindung dibalik ijtihad dan pencerahan berfikir--, dan terus berusaha mengaburkan dan menyimpangkan pemikiran-pemikiran Islam yang benar. Tujuannya agar umat toleran dan rela menerima pemikiran-pemikiran kufur, seraya meragukan keunggulan pemikiran-pemikiran Islam. Mereka membentuk kelompok studi, kajian, penelitian, dan sebagainya yang ditujukan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran barat, menanamkan epistemology barat dan memojokkan dan menghancurkan pemikiran-pemikiran dan epistemology Islam. Mereka membentuk lembaga, organisasi, atau kelompok research di seluruh dunia sebagai sarana untuk menghancurkan pemikiran dan epistemology Islam.
- Menyerang kelompok-kelompok Islam yang konsens dengan Islam, dengan berbagai macam bentuk dan cara. Ada yang memasuki gerakan-gerakan Islam, melakukan kegiatan mata-mata; melemahkan perjuangan anggota-anggotanya, menyibukkan gerakan tersebut pada aktivitas-aktivitas remeh dan murahan, membuat perpecahan internal, bahkan berusaha mengganti ideology Islam yang ada di dalam partai atau kelompok tersebut. Agen-agen ini biasanya dibekali dengan kemampuan sosialisasi, eksplanasi, dan komunikasi yang canggih. Ia berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang suci dan layak dijadikan panutan; namun sejatinya ia adalah orang culas yang berusaha menghancurkan perjuangan gerakan-gerakan Islam.
- Memberikan suport dan dukungan kepada negara-negara kufur, serta negara-negara yang menerapkan sistem kufur, serta membuat opini negative tentang gerakan Islam. Bahkan mereka berusaha memecah belah negeri-negeri kaum Muslim untuk mempermudah Negara-negara kafir menghegemoni dan mendominasi negeri-negeri tersebut.
- Kadang-kadang mereka berusaha membenturkan kelompok-kelompok Islam dengan kelompok Islam yang lain, atau membenturkan dengan kekuataan kaum Muslim lain, misalnya Negara, atau entitas masyarakat tertentu; agar Negara memberangus keberadaan kelompok Islam.
- Gerakan, lembaga, dan kelompok yang menjadi agen negara asing bisa ditengarai dari aliran dana yang masuk ke dalam organisasi tersebut. Biasanya, agen-agen asing mendapatkan support dana dari yayasan (foundation), pemerintah, atau lembaga-lembaga internasional yang di baliknya adalah negara-negara maju.
- Memiliki program kerja dan garis perjuangan yang menyimpang dari Islam, dan anti dengan gerakan-gerakan yang ingin menegakkan syariat dan khilafah Islamiyyah.
Inilah beberapa ciri yang bisa kita lihat dari organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga yang menjadi agen kaum kafir. Lalu, lembaga dan organisasi mana yang termasuk agen asing? Siapa-siapa saja yang menjadi agen asing? Jangan-jangan tanpa anda sadari, sebenarnya anda sudah termasuk agen asing (tanpa sadar) Wallahu A'lam bi al-Shawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar